Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 April 2025

TIPS CARA MUDAH DALAM MENULIS CERITA, FIKSI, NOVEL, BAGI PEMULA

Ditulis oleh : Andri Mulyahadi

Hallo teman-teman kali ini saya akan sharing lagi tentang tips-tips mudah "bagaimana cara untuk memulai memulis cerita, cerita fiksi, cerpen, novel, karangan, artikel bahkan sampai menulis buku."

Ini adalah tips awal bagi pemula yang silahkan buat temen-temen terapkan atau praktikan ketika ingin memulai menulis, tentu tidak ada salahnya juga bisa diterapkan buat penulis yang sudah berpengalaman.

Tips ini sudah sering saya praktikan sendiri ketika saya menulis atau membuat cerita.

1. Mencatat setiap ide atau gagasan

Biasakan untuk mencatat ketika kita mendapatkan ide/gagasan.

Jadi dimanapun kapanpun dan dalam kondisi apapun, saat ide terlintas di kepala kita, segeralah untuk mencatatnya.

Temen-temen bisa mencatat menggunakan alat tulis dan media tulis, seperti pena pulpen juga buku catatan atau semacamnya.

Jika dirasa tidak punya atau tidak sempat membawa, bisa mencatat di media elektronik seperti laptop atau handphone.

Di hp kan ada catatan, nah temen-temen bisa mencatat ide di aplikasi catatan, atau messenger. Mudah bukan?

Jadi.. Tidak ada alasan untuk TIDAK MENCATAT !

Kamis, 17 Oktober 2019

Kisah-kisah yang Hilang dalam Memori : #4 - Kita dan Rindu



               Kita adalah entitas yang seharusnya bisa bersama-sama. 

             Sebelum aku kehilangan kamu, banyak buku-buku yang membahas soal kita. Aku tidak tahu seberapa bahagianya kata “kita” di dalam buku-buku romansa. Aku ingin menyelaminya bersama kamu mencari buku-buku itu di daftar rak di toko buku. Di sana banyak berjejer karya-karya sastrawan seperti Pramoedya Ananta, Tere Liye, Andrea Hirata, Dee Lestari, hingga manusia hebat pengrajin puisi yakni Sapardi Djoko Damono.

               Tidak hanya membahas kita, rindu, cinta, kasih, semuanya soal hati. Kalau sudah seperti itu rasanya tidak ingin meninggalkan rak tersebut. Aku dan kamu ingin belajar menjadi kita yang baik.

                Aku membaca lembar-lembar Rindunya Tere Liye.
                “Kamu tau kan dimana kalau mau mencariku?”
                “Di rak-rak buku Tere Liye.”

                Sesuatu yang sudah hafal di luar kepala, setiap kali kita mengunjungi toko buku favorit kita. Aku biasa menuju buku-buku romansa sedang kamu masih sibuk melihat-lihat buku fantasi. Kamu selalu bertanya kepada pegawai buku jika berada di rak buku fantasi.

Selasa, 02 Oktober 2018

Kisah Luka-luka Andri - Episode Uland


Petuah

            Cara menyembuhkan luka kata Nenek saya adalah jangan menangis.

            “Aduh.. sakit.”

            “Kamu kenapa, Dri?”

            “Aku jatuh, Nek, dari sepeda.”

            “Yaudah jangan nangis, nanti juga lukanya sembuh sendiri.”

Dulu sewaktu saya umur enam tahun, saya pernah terjatuh tergelincir ketika mengendarai sepeda. Saya mengalami luka di bagian siku dan lutut, meski tidak begitu parah, namun, namanya anak kecil ketika ada bagian tubuh yang terluka sedikit saja maka refleks akan menangis.

            Saya pun mengadu kepada Nenek saya, beliau memberitahu saya agar tidak menangis, katanya kalau saya menangis ketika terluka maka lukanya tidak cepat sembuh. 

            Ketika saya tumbuh besar, saya menyadari perkataan nenek saya adalah sebuah sugesti yang positif bahwa “ketika kita terluka baik fisik maupun perasaan, berusahalah untuk tidak membuat suasana pikiran dan tubuh dalam kondisi sedih, karena kondisi tubuh dan pikiran yang menurun membuat keadaan kita semakin tidak baik. Begitupun sebaliknya, berusaha untuk merasakan senang dalam hati dan pikiran, akan menurunkan perasaan sakit dan luka.”

Kamis, 13 September 2018

Kisah-kisah yang Hilang dalam Memori : #3 - Dia

             Dia adalah entitas yang tak pernah ingin aku temui di dalam kata-kata.


            Aku ingin pulang ke rumah lalu membuka diary dimana kamu pernah bersemayam cukup lama di sana. Meski pada akhirnya, semua hanya menjadi debu-debu.
            Aku membuka diary.
            Aku cukup rindu saat melakukan pencarian kamu kemana-mana. Bahkan ketika aku pulang dan menemukan diary yang sudah nyaris tak berbentuk diary lagi. Kata-kata di sana, goresan pena, dan bercak-bercak memberitahukan semuanya kepadaku. Meski kamu pernah bersemayam di sana, kamu tak lagi menjadi kenangan atau hadiah masa lalu. Ada sosok yang membuatnya berubah, dia.

Selasa, 28 Agustus 2018

Kisah-kisah yang Hilang dalam Memori : #2 - Kamu

                 Kamu adalah entitas yang aku cari dalam kata-kata.
                Saat kisah yang aku ceritakan tempo lalutentang penjelajahan lembaran-lembaran halaman buku dan ingatan orangaku menemukan kisah yang membuatku berhenti sejenak, kisah yang membahas tentang, kamu.
                Ini bukan tentang aku, ini tentang kamu.
                Sebelumnya aku ingin flashback tentang kamu. Aku menemukan kamu dalam kumpulan orang-orang yang juga sedang menemukan kamu. Rasanya mudah sekali menemukan kamu, namun sulit untuk mendapatkannya. Aku bukan satu-satunya orang yang ingin menemukan kamu, orang-orang itu juga, para pesaing.  Mereka mungkin ingin mendapatkan kamu setelah menemukan kamu. Namun bagiku, kata “mendapatkan” terdengar sombong dan arogan. Aku tidak ingin menjadi seperti itu, nantinya aku malah menjadi keras kepala dan tidak tahu diri. Aku lebih suka menggantinya dengan “bersamamu,” aku ingin bersamamu. Bukankah terdengar lebih romantis?

Kisah-kisah yang Hilang dalam Memori : #1 - Aku

            Aku adalah sebuah entitas yang gemar mengumpulkan kata-kata.


            Pekerjaanku, santai namun sangat sulit. Tadinya aku ingin menjadi seorang astronot atau seorang ahli kimia murni dan fisikawan. Jauh ketika aku masih seorang anak sekolah taman kanak-kanak, aku menulis cita-cita itu di tembok kamarku. Satu-satunya tokoh yang aku kagumi saat itu adalah Neil Armstrong. Dia (katanya) orang yang kali pertama mendarat di permukaan bulan. Aku sangat terinspirasi dan termotivasi ketika ayah menceritakan tentang dia. Padahal aku tidak pernah tahu. Rasanya belum saatnya otakku belajar tentang angkasawan dan dunia astronomi. Cukup belajar menulis, membaca dan berhitung.

Selasa, 06 Maret 2018

Ekspedisi Pantai Laut Selatan

           Bagaimana jadinya jika sebuah insiden berhubungan dengan rumor dan mitos yang beredar di masyarakat?


            Mitos.

            Percayakah anda terhadap mitos atau cerita takhayul?

            Percaya atau tidak, bagi saya tidak jadi masalah. Justru pertanyaan tersebut malah membuat saya penasaran dan mencari sesuatu yang menarik. Jika Anda dituntut untuk menjawab pertanyaan tersebut apakah Anda percaya, alasannya kenapa? Begitupun jika tidak percaya, alasannya kenapa?

            Saya tentunya tidak akan menjelaskan rinci apa itu mitos, mitos adalah.. blablabla, definisi mitos, dan lain sebagainya, karena pada umumnya Anda paham mitos itu sendiri. Namun, sebagai pengantar mau tidak mau saya akan sedikit berpendapat mengenai mitos.

            Ternyata, mitos itu awalnya adalah sebuah ucapan dari mulut ke mulut. Ucapan tersebut lama kelamaan menjadi sebuah cerita. Biasanya orang yang bercerita itu adalah orangtua jaman dulu tentang sebuah kejadian atau hanya sekadar memberi peringatan kepada anak-anaknya untuk tidak nakal atau mencegah hal buruk menimpa mereka. Seperti jangan bermain petak umpet di waktu magrib, anak perawan jangan keluar malam-malam, jangan berkata sompral di tempat asing, dsb.

            Cerita yang disebarluaskan secara lisan dan turun-temurun dari keluarga, tetangga, hingga masyarakat menjadikan adanya aturan yang berbau peringatan atau biasa kita dengar “pamali”.

            Cerita yang menyebarluas itu disebut mitos atau cerita takhayul, cerita yang penemunya pertama kali tidak dikenal, namun secara umum kita menganggap hal tersebut adalah sebuah cerita yang benar ada dan terjadi.

            Selanjutnya Anda akan merasa mitos tersebut adalah sebuah kebenaran realita atau hanya karangan belaka? Mungkin setiap orang memiliki pendapat yang berbeda dari masing-masing sudut pandang dan argumen.

            Hal yang membuat saya tertarik tentang mitos adalah ingin membuktikannya sendiri dengan cara merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang akan menjawab kekeliruan saya. Salah satunya dengan penelusuran di Pantai Sawarna.

Selasa, 21 November 2017

Kisah Luka-Luka Andri – Episode Erna


          Ketika kamu merasa luka-luka karena patah hati, tidak ada antibiotik yang dapat menyembuhkan luka dengan cepat. Kamu hanya perlu menunggu hingga waktu menyembuhkan sendiri luka-luka tersebut kecuali kamu memilih untuk jatuh cinta kembali, namun tidak akan menghilangkan luka yang ada. Luka yang lama akan berganti luka yang baru ketika kamu gagal untuk jatuh cinta kembali.

                In memorian 2010      

Kali ini kehidupan baru dimulai. Tantangan baru pun bertambah. Saya melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Umum. Perlahan luka saya yang lalu mengering dan bersiap untuk menggantikannya dengan kisah yang menyenangkan. Pada tahun sebelum 2010 masuk ke sekolah negeri merupakan prestasi yang membanggakan apalagi jika mendapat rangking dan juara di sekolah sebelumnya. Saya bersyukur bisa masuk di salah satu SMU negeri di Kota Bogor.  Meski saya bukan termasuk anak pintar, namun keberuntungan masih berpihak pada saya, karena banyak anak yang pintar malah tidak diterima di sekolah yang diimpikan.

Sekolah baru, lingkungan baru, teman baru, tentunya harus ada kisah cinta baru yang harus menjadi pengalaman. Masa asmara anak SMU tak beda jauh dengan masa SMP, seperti rumusan klasik dimana cinta cinlok adalah rumusan yang mainstream terjadi lingkungan SMU. Namun tidak sedikit pula ada kisah antar sekolah yang ujung-ujungnya biasanya berakhir dengan tawuran. Ngomong-ngomong soal tawuran, tingkat tawuran SMU/SMK/sederajat pada masa saya lebih tinggi dibanding anak SMP. Hal ini dikarenakan tingkat kelabilan dan terpengaruhnya dari lingkungan liar semakin besar terjadi di masa SMU. Hal ini yang mengakibatkan banyak korban berjatuhan di masa pubertas yang amat sangat labil.Namun untungnya, saya tobat untuk melakukan hal-hal kenakalan yang berakibat parah.

Minggu, 12 November 2017

Kisah Luka-Luka Andri – Episode Clarista


Kamu tahu ada berapa luka-luka pernah bersemayam dalam kisah-kisah saya? Dan siapakah first love dalam kisah-kisah ini? Kamu bisa menjawab dengan menebaknya setelah kamu berada pada kisah di episode terakhir..

pengantar yang membosankan. Kamu bisa skip membaca ini hingga pada kisah-kisah luka yang saya ceritakan.

Saya pernah berencana untuk menulis kisah-kisah sendu tentang luka karena patah hati. Tentunya sebelum kisah-kisah berikut ini ada. Menulis kisah-kisah luka menurut saya mudah-mudah susah, karena ketika saya merubah kisah-kisah yang berada di kepala menjadi sebuah tulisan, luka-luka lama yang terbawa kembali hidup dan menghantui pikiran saya untuk bercerita, rasanya seperti kesetrum aliran listrik 12 volttidak terlalu tinggi namun cukup membuat saya terkejutdan membuat kepala saya menggelitik. Secara mendadak membuat pori-pori saya terbuka bak stomata pada daun yang mengeluarkan oksigen.

            Kisah luka ini adalah kisah nyata pengalaman saya. Kisah percintaan seorang remaja yang terjebak dalam kehidupan lingkaran asmara. Saya yakin beberapa dari kamu pernah mengalaminya sama seperti saya. Luka hati terjadi akibat kisah cinta yang berakhir. Selalu seperti itu. Saat masa pacaran, tidak ada kisah cinta yang tidak berujung luka hati. Semakin banyak seseorang memiliki kisah-kisah luka semakin bertambah pula kemampuannya dalam mencoba untuk jatuh cinta kembali. Luka hati akan berakhir pada kisah pengalaman percintaan seseorang dengan mantan kekasihnya. Namun, Luka hati tidak selamanya terjadi setelah pacaran, ada juga karena gagalnya mendapatkan cinta.

            Berbicara tentang mantan, saya ingin bercerita kisah luka-luka ini dengan sosok mantan-mantan. Mantan kekasih, mantan gebetan, mantan teman tapi sayang-sayangan, sampai mantan kakak-adean yang ketemu gede. Meski untuk sebagian kamu mengganggap mantan adalah sosok yang menakutkan, tidak bagi saya.

            Mantan itu adalah alumni hati. Tanpa mereka saya tidak akan mendapat prestasi dalam pembelajaran selama berkisah cinta. Jadi menurut saya, mereka adalah bagian dari kenangan kita yang sudah diarsipkan dalam memori kita. Ketika pada saatnya kita membutuhkan arsip tersebut untuk suatu hal kita hanya tinggal mendownload dan membukanya dalam berangkas kita, seperti untuk reuni kembali, CLBK, atau untuk dijadikan kartu undangan pernikahan kamu dengan calon pasanganmu. Kalau saya, akan dijadikan bahan baku pembuatan tulisan baru tentang kisah-kisah luka saya.

Saya akan bercerita dengan sederhana dan akan memulai dengan kisah luka pertama.

Jumat, 20 Oktober 2017

Satu Hari yang (Seharusnya) Menyenangkan

Oleh : Andri Mulyahadi

Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur Alhamdulillah kepada Tuhan Yang Maha Esa.. karena saya masih diberikan umur dan kesehatan di tahun ini..
Hingga saya masih bisa menulis kata-kata ini.

Saya berterimakasih kepada keluarga dan para sahabat yang sudah mengingat dan memberikan kejutan kecil untuk saya. Sebuah hadiah yang luar biasa di hari yang luar biasa ini..

Satu hari yang menyenangkan..
Sebelumnya saya menanti-nanti satu hari yang menyenangkan ini, ketika telah datang ingin rasanya mengisi dan menghabiskan waktu yang menyenangkan dan bahagia, namun hal itu tak berlangsung lama, saya tahu, saya tak bisa meminta waktu untuk berhenti beberapa jam saja, atau beberapa menit untuk berlama-lama. Karena saat saya kehilangan hari ini, saya harus menunggu 365 hari lagi untuk bisa bersenang-senang seharian. Itupun jika Tuhan masih memberi saya kesempatan hidup hingga 365 hari lagi.

Satu hari yang menyenangkan..
Saya membuka kotak surat.. Mungkin Ada banyak pesan yang berdatangan di dalam sana. Semuanya sebuah pesan-pesan bahagia untuk saya. Pesan yang mungkin bisa membuat saya meneteskan air mata bukan karena sedih tapi bahagia.  Pesan yang tak tega untuk saya hapus apalagi dibuang. Jika saja kotak surat itu sebesar kamar, rasanya ingin ku simpan hingga tahun berikutnya. Namun bisa saja saya tak ingin membukanya karena tak ada satu suratpun bersemayam di dalam sana.

Satu hari yang menyenangkan..
Saya teringat seseorang. Dia pernah menemani saya melewati satu hari yang menyenangkan ini, namun itu tahun lalu, bukan maksud saya tahun lalu yang lain, saya lupa pada tahun yang mana. Bayangkan saya melalui hari yang menyenangkan seperti ini sendiri pun gembira apalagi ditemani seseorang,  "satu hari berasa dua hari". Namun hari ini seseorang itu sedang tidak bisa menemani saya, mungkin dia sedang ada keperluan mendadak atau sedang bekerja di luar kota. Setidaknya saya tak ingin berpikiran "seseorang itu sudah lupa".

Satu hari yang menyenangkan.
Saya banyak bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan, mereka tampak gembira dan bahagia, sebuah tawa renyah dan senyuman sudah cukup membuat saya percaya bahwa mereka juga sedang menikmati satu hari yang menyenangkan. Sebuah hal lucu bisa bertemu dengan orang yang juga sedang menikmati hari mereka yang menyenangkan, serunya kita bisa menikmati nya bersama, hanya ada rasa senang, rasa yang lain kita akan mengesampingkan dahulu. Namun itu memang tak selalu ada, terkadang kita tak tahu mana orang yg benar-benar sedang menikmati hari yang menyenangkan ini atau hanya bersembunyi dari wajah senyumnya itu.

Satu hari yang menyenangkan.
Saya berdoa. Saya ingin berdialog dengan Tuhan, saya ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karena telah memberikan saya satu hari yang menyenangkan ini. Dengan begitu saya akan libur merasakan sedih, sesal, kecewa, marah. Saya hanya merasakan satu hal saja kesenangan, karena saya tahu Tuhan hanya memberikan ku satu hari saja dalam setahun, satu hari yang menyenangkan. Terimakasih Tuhan hanya Engkau yang mengetahui segalanya.

Satu hari yang menyenangkan..
Saya kembali ke rumah. Waktu saya yang menyenangkan ini tersisa beberapa menit saja. Rasanya ingin sekali mengulangi hari yang menyenangkan ini. Atau minimal tambah satu hari lagi. Namun waktu memang tidak bisa ditawar-tawar, waktu hanya memberikan satu hari yang menyenangkan ini satu kali saja, jika saya ingin lagi harus menunggu tiga ratus hari lebih. Ingin saya memimpikan hari ini tak boleh berakhir karena saya masih menunggu sesuatu yang akan datang, setidaknya di detik-detik terakhir hari ini..
Saya masih menunggu..

Satu hari yang (seharusnya) menyenangkan.. saya bersyukur dengan hari ini karena saya hanya merasakan satu perasaan saja, yaitu senang, tidak lain. Meski saat kamu membaca cerita sederhana ini merasa bersedih atau apapun kecuali senang, berarti kamu sedang mengetahui apa sebenarnya hari yang menyenangkan itu.. namun kali pertama satu hari yang menyenangkan itu aku lewati.. aku bersedih..
Satu hari dimana saat kali pertama aku menjerit dan meneteskan air mata ketika bertemu dengan dunia..

Satu hari ini (sebenarnya)... Sudah hilang..

Kamis, 02 Maret 2017

Putri yang Bermimpi



Cerpen : Andri Mulyahadi

            ..Bermimpi, aku menyebutnya bereksplorasi.
         ..Batas antara sadar dan tidak sadar disaat terlelap adalah titik awal bertemunya sebuah mimpi. Setelah melewati fase-Rapid Eye Movement, perlahan aku akan memasuki dunia mimpi, dan aku mulai untuk bereksplorasi.
           ..Mimpi adalah saat dimana kau berada diantara dunia nyata dan maya, dunia tanpa batas ruang dan waktu, tanpa mengenal siapa dan dimana, bahkan bebas untuk bereksplorasi sesukamu. Melukis harapan dan cita-citamu atau bersandiwara dengan jati dirimu. Semua dapat kau lakukan dalam satu waktu, di dalam mimpi..
            ..Tetapi saat kau terlalu asik dalam dunia mimpimu, kau melupakan hal yang berada dalam dunia nyatamu, kau lupa bahwa kau masih punya batasan yang tak bisa kau bawa ke dunia mimpimu, itu mengapa kau tak bisa terus selamanya bermimpi, tak bisa selamanya bereksplorasi..
            ..Tapi aku, bisa melakukannya setiap malam.

Sabtu, 25 Februari 2017

Ayat Pengantar Surga



Cerpen : Andri Mulyahadi

            Mereka sudah terbangun jauh sebelum matahari membangunkan mereka, bahkan sebelum fajar berganti subuh. Suara ayat-ayat Al-quran berkumandang perlahan membangunkan tidur Raka yang pulas. Ia melihat ke sekeliling ruangan, tempat tidur tampak sudah rapi dan tak ada orang kecuali dirinya. Kemana para santri yang lain?
            Raka beranjak dari tempat tidur menuju jendela kamar. Dibukanya daun jendela perlahan, udara dingin berebut masuk menyentuh tubuhnya, lalu ia melihat halaman pesantren dan langit dengan mata yang masih mengantuk. Ternyata pemandangan di luar masih gelap, ia menggosok-gosokan kedua matanya yang masih setengah merapat dan melihat langkah-langkah kaki bergegas menuju masjid. Ia berbalik melihat jam dinding tua yang mengantung di dinding. Jam menunjukan pukul empat pagi.

Selasa, 22 November 2016

Bunga Kemuning


Potongan Cerpen : Andri Mulyahadi


            Bunga, apa kamu ada waktu untuk kita bertemu?
            Aku menulis pesan dua hari yang lalu kepadamu. Namun kamu tak kunjung membalasnya. Aku ingin berbicara denganmu, menanyakan apakah kamu baik-baik saja? sekaligus aku ingin meminta maaf. Kalau nanti kita bertemu, aku ingin memberitahumu sesuatu.
            Esoknya, kamu membalas pesanku dengan singkat.
            “Pram, besok aku pulang ke Bandung, kalau kamu ingin bicara denganku, temui aku di Alun-alun Bandung.”
            Aku mencoba menelponmu, menghubungimu beberapa kali namun kamu tidak mengangkatnya. Pesan yang kamu kirimkan memang sudah jelas memberitahuku kalau kamu tidak bisa bicara denganku sebelum kita bertemu.
            Tiga puluh menit berlalu aku menunggumu tepat di Alun-alun Bandung. Tempat yang memang sudah tidak asing lagi untukmu. Kamu bilang tempat itu sangat nyaman dan bisa membuat kita bahagia, makanya kenapa orang-orang banyak berkunjung kesana dan mengisi hari-hari bahagia mereka. Aku berharap bisa seperti mereka.
            “Hai, Pram, sudah lama?” Kamu datang dari arah samping dengan tiba-tiba.
            “Hai Bunga, tidak terlalu lama. Tempat ini membuatku lupa waktu.”
            Kamu melihatku dengan tersenyum―memang kita sudah hampir dua bulan tidak bertemu―dan aku pun demikian. Namun mataku tertuju pada seseorang yang datang bersamamu, seorang lelaki.
            “Oya Pram, sampai lupa, ini Damar.” Kamu mengenalkan lelaki itu kepadaku. Kami saling bersalaman. Senyumku lenyap seketika saat Damar berkata dia adalah calon suamimu. Aku ingin menanyakan padamu, apa itu benar?
            “So kita sudah bertemu, kamu ingin bicara apa, Pram?”
            Aku melihat hal yang berbeda padamu saat kamu melihatku dan saat kamu berbicara. Seperti bukan kamu yang aku kenal. Harusnya memang lelaki itu tidak berkata demikian, bukan? Aku setengah tidak percaya dengan perkataan Damar. Ingin rasanya aku menyangkal perkataannya di hadapanmu, namun kamu seperti sudah tahu lebih dulu daripada aku.
            “Aku ingin berpamitan kepadamu, minggu depan aku akan berangkat ke Australia, mengambil beasiswa S2 di sana.”
            “Wah, kamu hebat Pram, semoga berhasil ya, aku mendukungmu”
            “Iya, terimakasih, Bunga.”
            Tak banyak yang aku bicarakan kepadamu. Aku berpamitan pulang, kurasa aku harus mempersiapkan keberangkatanku ke Australia. Aku meninggalkanmu bersama Damar.
            Entah apa yang sebenarnya terjadi saat itu, harusnya aku memberitahumu bahwa aku tak jadi mengambil beasiswa disana, kamu sendiri yang bilang tidak setuju aku pergi ke sana. Namun kenapa sekarang kamu malah mendukungku.
            Dan yang membuatku membatin saat tahu bahwa kekasihku sendiri mempunyai calon suami orang lain. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Hatiku merasa terpukul ketika Damar berkata kalian akan segera menikah. Bukankah kita masih sepasang kekasih, Bunga?
            Semua kekeliruan ini terjawab ketika aku tahu, kamu mengalami kecelakaan sebulan yang lalu yang ngakibatkan kepalamu terbentur keras hingga menderita amnesia. Dan tak ada satupun dari keluargamu yang memberitahuku.
            Padahal aku ingin memberimu sesuatu yang selalu kau suka, yang selalu aku berikan kepadamu, ya, Bunga Kemuning. Bunga yang tak bisa dilupakan. Aku menaruhnya di depan rumahmu yang dulu. Aku berharap kau mengingatnya. 

Kamis, 03 Maret 2016

Misal Aku Jadi Hujan



“Misal kamu jadi hujan, apa yang akan kamu lakukan?” Ia bertanya kepadaku.

“Tentu aku akan cepat reda dan pergi jauh-jauh.” Singkatku.

Dia tertawa sambil memejamkan matanya. Aku melihat wajahnya, ia beranggapan seolah ada yang lucu dibalik perkataanku itu. Sambil menunggu hujan reda, kami duduk di beranda sekolah dan bercerita kecil.

“Kenapa kamu tertawa, memangnya ada yang lucu?” aku merayu.

“Aku tahu, kamu berkata demikian karena tak ingin kebasahan kan? Hujan membuatmu menjadi orang aneh ketika mereka membasahimu.”

Dia masih tertawa, sedang aku tersenyum melihatnya tertawa. Ku julurkan tanganku ke arah hujan dan menatap langit, berharap butiran air itu cepat berlalu.

“Kalau hujan ini masih belum reda juga, kapan aku bisa pulang? Pasti sekarang orangtuaku sedang menungguku di rumah.”

“Besok kamu  benar mau pergi ke luar kota?” 

“Ya, aku ikut ayahku karena beliau mendapat tugas di luar kota untuk jangka waktu yang lama. Dan kemungkinan aku akan kuliah di sana.”

Aku kembali duduk di sebelahnya. Namun aku tak melihat tawa renyahnya lagi. Ia hanya tersenyum, aku tahu ada yang berbeda dari senyuman itu.

“Berarti kamu akan pindah rumah dan gak akan kembali lagi kesini dong.” Ia tersenyum tipis. Aku hanya mengangguk dan menatap hujan.

“Kalau kamu, misal kamu jadi hujan, apa yang akan kamu lakukan?” kini aku yang bertanya kepadanya.

“Misal aku jadi hujan, aku tidak akan berhenti menjatuhkan butiran-butiran ini, meski pada akhirnya aku harus melakukannya, aku akan izin kepada Tuhan untuk menundanya sehari ini saja,  setidaknya aku ingin memberi waktu lebih kepada dua orang yang duduk di sana untuk menghabiskan waktu bersama, sebelum salah satu dari mereka akan meninggalkannya pergi.

Senin, 08 Februari 2016

Bidadari



 cerpen : Andri Mulyahadi

              Aku tidak banyak setuju dengan hal di dunia ini. Karena semua itu tidak benar-benar realistis seperti apa yang dipikirkan oleh manusia, ada unsur rekayasa, egoistis, imajinatif bahkan mereka tidak benar-benar sepakat dengan banyak hal. Kata “setuju” hanya sebagai kesepakatan sesaat yang suatu waktu bisa berubah sebaliknya. Percaya atau tidak, yang jelas itu memang manusiawi.

                Aku mempunyai bidadari. Seorang manusia mempunyai bidadari. Apa kau percaya dan sepakat? Dia yang aku anggap bidadari saja belum tentu sepakat bahwa aku menganggapnya bidadariku. Aku memutuskan hal tersebut dengan sepihak, bukankah itu egois? Biar saja, itu manusiawi.

Selasa, 20 Oktober 2015

Sepotong Cerita : Kata Hati

Aku pernah menanyakan sesuatu padanya tentang kata hati. Kemudian ia menjawab “mengapa kamu tanyakan itu padaku?”
“aku hanya ingin tahu, apa kata hati seorang perempuan berbeda dengan laki-laki?” kataku.
Ia sejenak menatapku dengan serius saat aku menanyakan hal itu. Kemudian ia memalingkan pandangannya pada laut di hadapannya.
“Hati perempuan seperti laut di kala senja. Ombaknya tenang, suaranya lembut, warnanya indah, selalu membuat perempuan hanyut di dalamnya.” Katanya.
“apa kamu menyukai laut?” aku memalingkan pandangan ke arah laut. Ia kembali melihatku dan melihat lagi ke laut. “Aku tidak terlalu suka laut.” Singkatnya.
“kenapa? Bukankah katamu laut itu indah?”
Ia memejamkan mata sejenak dan menghirup panjang udara senja, tersenyum lalu diam. Ia mengambil jeda untuk kemudian berbicara kembali. “laut memang indah. Tapi bukan berarti aku menyukainya. Ia bisa saja menjadi feminim saat ini, namun kita tidak tahu ketika pasang ia bisa saja menjadi monster yang sangat menakutkan yang kapan saja bisa memakanku. Makanya aku tak berani menyapanya dari dekat. Aku takut sewaktu-waktu aku terhanyut dalam kemenawanannya lalu aku terbawa hilang.”
Kemudian aku tahu ia tak terlalu menyukai laut di pagi, siang, ataupun malam hari. Ia hanya datang saat senja. Baginya laut sedang tidur. Mungkinkah laut tertidur dengan waktu yang sesingkat itu, selama senja saja, setelah itu laut kembali mengganas.
“itulah kata hati perempuan. Sulit ditebak. Kamu yang tahu hati perempuan itu lembut dan penuh kasih namun kamu tidak banyak tahu hati perempuan pun kapan saja bisa seperti laut itu. menjadi monster !! aku takut saat hati ini terluka sedikit saja. Ia akan mengacaukan seluruh isi di dalamnya. Hati perempuan itu begitu sensitif, begitu ada yang memulai bermain hati, ia kan menjelma sebagai laut di malam hari. Kamu tidak bisa melihat ombaknya, namun kamu bisa mendengarnya bergemuruh, riuh sekali. Sampai-sampai seperti jeritan bayi menusuk telinga.” Ia melanjutkan ucapannya.
Aku mencoba tersenyum dan menemani ucapannya itu “aku mungkin tak mengerti kata hati seorang perempuan. Tapi aku percaya ketika aku telah mengenalnya lebih dekat dan lebih dalam, aku mulai memahaminya. Seperti laut yang kamu ceritakan. Kamu takut pada laut, itu karena kamu belum mengenalnya lebih dekat. Saat kamu mendekatinya, layaknya tangan manusia, ia akan mengulurkan tangannya kepadamu dan mengajakmu mengenal laut.”
“apa kamu tidak takut?” katanya. “aku tidak takut. Kalau saja ia menjadi monster, aku akan berdiri di hadapannya. Kata hati mempunyai caranya sendiri untuk berkata, bukan melalui ucapan, ataupun sebuah ketakutan. Namun sebuah ketulusan yang akan mengubahnya menjadi senja yang kamu kagumi.” Kataku menjawab keragu-raguannya.
Ia kembali tersenyum padaku. Aku melihat ada yang berwarna di matanya, pantulan senja yang indah terlukis di sana. Kata hati selalu mempunyai caranya sendiri untuk berkata. Ia yang dulu takut pada laut, kini tak lagi. Ada seseorang yang menemaninya untuk mencintai laut seperti kata hatinya. Bahwa sesungguhnya kata hati seorang perempuan itu sama halnya kata hati seorang laki-laki. Sama-sama saling memahami. Meski banyak dari mereka terlambat menyadarinya.

Rabu, 07 Oktober 2015

Jalan Serawang



Cerpen : Andri Mulyahadi 

Akhir-akhir ini, sekolah mulai ditutup pada pukul 19.00. Mengingat kejadian perampokan tempo lalu yang mengabiskan komputer dan peralatan elektronik lainnya. Semua CCTV dipasang di setiap sudut dan kini para satpam berjaga 24 jam. Aku bersama tiga temanku, Rani, Dea, dan Radit yang masih mengerjakan properti di kelas untuk kegiatan besok di sekolah harus dihentikan, karena ruang kelas yang hendak di kunci. Kami pun pulang setelah solat magrib. Terlihat sekolah begitu sunyi dan mencekam dengan cahaya lampu yang remang-remang.

Sabtu, 05 September 2015

Perempuan Kamuflase


Cerpen by : Andri Mulyahadi
 
            Bahagia itu, ketika kita bisa menghabiskan waktu bersama orang yang kita cintai. Namun, aku belum sempat merasakannya, waktuku terlanjur habis seiring daun-daun yang berguguran dihempaskan waktu..

            Lihatlah. Lelaki itu duduk di sana, ia tampak tersenyum bahagia, bersama seorang perempuan cantik dan seorang anak perempuan yang lucu, di bangku panjang berhiaskan dedaunan kering. Aku rindu berada di sana, tempat yang sama saat aku pernah dengan cukup sabar dan tabah menunggunya selama berjam-jam sebagai seorang perempuan. Itu dulu, sebelum akhirnya aku menyerah. Saat itu aku ingin pulang tapi tak ada gunanya juga aku pulang, aku tak menginginkan rumah. Lalu aku memutuskan untuk menghabiskan tahun demi tahun usiaku hidup untuk bersembunyi.

Jumat, 03 April 2015

Nyanyian Merpati

Cerpen : Andri Mulyahadi


                 Aku suka bernyanyi.

            Tetapi orang lain tidak suka aku bernyanyi, mereka bilang suaraku tak merdu dan mereka tak ingin sedikitpun mendengar nyanyianku..

            Namun aku tetap saja bernyanyi, walaupun kedua mataku tak bisa lagi melihat dunia, tetapi aku masih bisa mendengar dan merasakan sesuatu. Seperti suaraku sendiri. Dimana aku bernyanyi, aku pun mendengarkan alunannya, seraya dengan melodi yang lembut—aku merasakan tinggi rendahnya nada itu dan tempo yang seirama. 

            Aku tak pernah mengerti mengapa mereka tak suka nyanyianku. Mungkin memang aku ini tak bakat untuk bernyanyi, tapi mengapa hanya karena aku bernyanyi aku selalu dibenci bahkan diusir jauh-jauh. Padahal nyanyianku tak begitu buruk, mereka saja yang iri melihatku bisa bernyanyi, atau mungkin mereka sendiri yang tak tahu caranya bernyanyi.