I didn’t expected to write this review before,
because I haven’t feel the
energy of love flowing there.
But I see, a light from “99 Cahaya di Langit Eropa” was shining into “Faith and
The City”. It as a form of my
appreciation for best author Mrs. Hanum Salsabiela Rais and Mr. Rangga
Almahendra. They have been delivering great stories and
experiences to be “Faith and The City.”
Jumat, 21 Juli 2017
Senin, 13 Maret 2017
[Fragmen] Prolog - Ketika HUjan Tak Bersama Cinta
..Potongan novel "Dilemanisme" yang belum selesai---yang mungkin akan saya selesaikan untuk waktu yang tidak sebentar---masih dalam bentuk yang abstrak, masih sedikit liar, dan masih seperti fragmen yang belum utuh. Hal itu karena masih ada cinta yang belum terselesaikan dan luka karena patah hati yang tidak mudah disembuhkan.
saya pun masih mengadaptasikan apakah novel ini bisa dilanjutkan atau tidak. Saya masih melatih tokoh-tokoh di dalamnya agar bisa menjadi pemeran yang saya harapkan. namun dengan segenap hati saya mencoba membangun jantung cerita ini agar setidaknya bisa berdetak sehingga ketika saya memiliki cukup energi untuk bisa menyatukan antara cinta dan luka akibat patah hati, saya bisa melanjutkannya dengan sepenuh hati.
Maka dari itu, agar bisa membangun itu semua, saya ingin menyimpan fragmen yang tidak kompleks ini dalam bentuk prolog yang sangat singkat.
-Prolog-
Ketika Hujan Tak Bersama Cinta
Tetesan, sejuk, memori,
bagian dari kenangan hujan yang selalu datang bersamaan dengan cinta. Tetesan
yang jatuh berirama, menyampaikan berjuta makna dan menjadi arti kehadiran hujan. Sejuk
yang selalu mengingatkan saat kita melihat cinta berada di balik rintihan hujan itu. Dan kembali membawa
cerita, kau, aku dan hujan yang dulu pernah tersirat dalam sebuah memori…
Daun-daun yang
berdiskusi dengan angin dan titik-titik air membasahi permukaannya, mereka
membuatnya cemburu.
Sesuatu
yang ia takutkan kini benar-benar terjadi. Ia berusaha untuk menghindari
ketakutan di dalam benaknya, meski rasa itu kini datang menghampirinya. Ia tahu
apa yang telah ia lakukan saat itu, tapi itu tak lagi cukup untuk membendung
perasaannya. Mengapa waktu terlambat menghadirkan kata
“penyesalan” dalam hidupnya. Setidaknya beri sedikit waktu untuknya kembali
lagi. Tetapi waktu itu seperti tetesan hujan yang jatuh melintas begitu cepat
dan yang pasti takkan mungkin kembali. Dan kini ia teringat ketika hujan tak
bersama cinta..
Hujan
turun mendahului langkah Revan yang berusaha mengejar Diela keluar dari pintu. Ia
menarik lengan Diela yang sejak tadi melepaskan genggaman Revan. Sepertinya
hujan itu datang di saat yang tidak tepat, di saat Revan harus menerima apa
yang tidak ingin ia terima.
“Apa
semua itu kurang jelas.” Ujar Diela.
“Aku
tak ingin semua ini berakhir.”
Revan menggenggam
telapak tangan Diela dan menatap mata yang
telah lelah menunggu.
“Berakhir?
memang sudah sampai mana? Bahkan kita tak pernah memulainya?” Diela menahan
perasaannya dengan mata yang tajam menatap Revan.
“Ada
apa denganmu?” Revan terheran.
Diela perlahan melepaskan
genggaman Revan yang masih tersimpan harapan.
“Ada
apa denganku? Ada
apa denganmu. Apa kamu tak mengerti, Van? Aku sudah bilang
kita tak mungkin bisa bersama, apalagi menjalani sebuah hubungan. Itu akan
menyakitkan aku, juga kamu”
“Die, aku…
Diela memejamkan matanya sesaat dan mengangkat tangannya tepat di depan
wajah Revan.
“Stop. sudahlah Van, aku capek mengerti kamu. Tak ada gunanya lagi aku
terus bersamamu. Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi. Dan kurasa itu lebih
baik” Diela tersenyum tipis menahan bendungan air
mata yang hampir
tak kuasa lagi ia
tahan.
Diela meninggalkan Revan di bawah
rintik hujan. Ia harus melupakan apa yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Berharap hujan ini menjadi saksi kali terakhir ia bertemu dengan Revan. Sebenarnya
perasaannya kini begitu menangis saat ia berkata seperti itu. Ia bertanya-tanya
mengapa aku begitu jahat kepadanya. “Apakah yang aku lakukan itu menyakitkan
hatinya? tapi tak ada lagi yang bisa ku perbuat, semua itu demi kebaikan aku dan
dirinya. Dan selanjutnya biarkan Revan bersama hujan ini…”
Hujan ini perlahan memisahkan Revan
dengan perempuan yang begitu ia cintai. Ia membiarkan hatinya terguyur tetesan
kecil yang semakin lama semakin deras hingga tak ada sedikit celah pun yang tak
tersentuh hujan. Tak ada lagi yang harus ia lakukan selain melihat Diela pergi
dari hadapannya,
dari hidupnya.
Hujan yang menyatu dengan air
matanya itu seolah menutupi harapan di pelupuk matanya. Seakan-akan ia melihat
begitu jauh dari ujung pandangannya, yang semakin lama semakin menjauh hingga
berupa sebuah titik terkecil dalam hidupnya.
Langit yang kelabu dan enggan
tersenyum melambangkan suasana hati Revan saat itu. Langit pun bahkan tak ingin
menghadirkan mentari di sisinya. Revan merasa langit itu tak seperti dulu yang
selalu ceria ketika ia bersama Diela. Tapi kini ia tahu langit lebih suka
menghadirkan hujan dari pada mentarinya.
Apa yang Revan lakukan kepada Diela,
hingga Diela begitu membencinya, bukankah cinta memberikan kebahagian saat dua
perasaan saling memiliki? Apakah perasaan mereka itu salah hingga tak punya
alasan untuk bersatu? Seharusnya cinta membiarkan mereka bersama atau setidaknya
biarkan persahabatan mereka tetap terjalin.Tapi mungkinkah hal tersebut bisa
terjadi? Antara hujan dan cinta memang selalu menyimpan sebuah misteri.
Kamis, 02 Maret 2017
Putri yang Bermimpi
Cerpen : Andri Mulyahadi
..Bermimpi, aku menyebutnya bereksplorasi.
..Batas antara sadar dan
tidak sadar disaat terlelap adalah titik awal bertemunya sebuah mimpi. Setelah
melewati fase-Rapid Eye Movement, perlahan aku akan memasuki dunia mimpi, dan
aku mulai untuk bereksplorasi.
..Mimpi adalah saat dimana kau berada diantara
dunia nyata dan maya, dunia tanpa batas ruang dan waktu, tanpa mengenal siapa
dan dimana, bahkan bebas untuk bereksplorasi sesukamu. Melukis harapan dan
cita-citamu atau bersandiwara dengan jati dirimu. Semua dapat kau lakukan dalam
satu waktu, di dalam mimpi..
..Tetapi saat kau
terlalu asik dalam dunia mimpimu, kau melupakan hal yang berada dalam dunia
nyatamu, kau lupa bahwa kau masih punya batasan yang tak bisa kau bawa ke dunia
mimpimu, itu mengapa kau tak bisa terus selamanya bermimpi, tak bisa selamanya
bereksplorasi..
..Tapi aku, bisa
melakukannya setiap malam.
Selasa, 28 Februari 2017
Kapan Kali Terakhir Kau Jatuh Cinta?
Kapan
kali terakhir kau jatuh cinta ?
Tanpa
disadari, semakin lama rentan waktu yang dihabiskan untuk menunggu jatuh cinta
kembali dan memperbaiki bekas sisa-sisa jatuh cinta dulu, perlahan kau akan
lupa bagaimana cara jatuh cinta lagi. Membiarkan sebuah hati menyembuhkan
dirinya sendiri dari luka-luka yang pernah membenam di sana. Menyerahkan kepada
waktu dan semesta untuk secara otomatis melupakan sebuah kejadian yang
mengingatkanmu tentang bagaimana cara jatuh cinta kembali.
Namun
pada akhirnya semesta akan menipudayamu dan waktu akan membiarkan semua keadaan
berjalan apa adanya, hingga kau merasa mereka tidak pernah berpihak padamu.
Tidak sama sekali. Dan sampai kau menyadari hal yang tidak pernah kau sadari
sebelumnya bahwa kau ingin kembali merasakan jatuh cinta, namun kau tidak tahu
bagaimana melakukannya bahkan memulainya.
Sabtu, 25 Februari 2017
Ayat Pengantar Surga
Cerpen : Andri Mulyahadi
Mereka sudah terbangun jauh sebelum
matahari membangunkan mereka, bahkan sebelum fajar berganti subuh. Suara
ayat-ayat Al-quran berkumandang perlahan membangunkan tidur Raka yang pulas. Ia
melihat ke sekeliling ruangan, tempat tidur tampak sudah rapi dan tak ada orang
kecuali dirinya. Kemana para santri yang lain?
Raka beranjak dari tempat tidur
menuju jendela kamar. Dibukanya daun jendela perlahan, udara dingin berebut
masuk menyentuh tubuhnya, lalu ia melihat halaman pesantren dan langit dengan
mata yang masih mengantuk. Ternyata pemandangan di luar masih gelap, ia
menggosok-gosokan kedua matanya yang masih setengah merapat dan melihat langkah-langkah
kaki bergegas menuju masjid. Ia berbalik melihat jam dinding tua yang
mengantung di dinding. Jam menunjukan pukul empat pagi.
Selasa, 22 November 2016
Bunga Kemuning
Potongan Cerpen : Andri Mulyahadi
Bunga,
apa kamu ada waktu untuk kita bertemu?
Aku
menulis pesan dua hari yang lalu kepadamu. Namun kamu tak kunjung membalasnya.
Aku ingin berbicara denganmu, menanyakan apakah kamu baik-baik saja? sekaligus
aku ingin meminta maaf. Kalau nanti kita bertemu, aku ingin memberitahumu
sesuatu.
Esoknya,
kamu membalas pesanku dengan singkat.
“Pram,
besok aku pulang ke Bandung, kalau kamu ingin bicara denganku, temui aku di
Alun-alun Bandung.”
Aku
mencoba menelponmu, menghubungimu beberapa kali namun kamu tidak mengangkatnya.
Pesan yang kamu kirimkan memang sudah jelas memberitahuku kalau kamu tidak bisa
bicara denganku sebelum kita bertemu.
Tiga
puluh menit berlalu aku menunggumu tepat di Alun-alun Bandung. Tempat yang
memang sudah tidak asing lagi untukmu. Kamu bilang tempat itu sangat nyaman dan
bisa membuat kita bahagia, makanya kenapa orang-orang banyak berkunjung kesana
dan mengisi hari-hari bahagia mereka. Aku berharap bisa seperti mereka.
“Hai,
Pram, sudah lama?” Kamu datang dari arah samping dengan tiba-tiba.
“Hai
Bunga, tidak terlalu lama. Tempat ini membuatku lupa waktu.”
Kamu
melihatku dengan tersenyum―memang kita sudah hampir dua bulan tidak bertemu―dan
aku pun demikian. Namun mataku tertuju pada seseorang yang datang bersamamu,
seorang lelaki.
“Oya
Pram, sampai lupa, ini Damar.” Kamu mengenalkan lelaki itu kepadaku. Kami
saling bersalaman. Senyumku lenyap seketika saat Damar berkata dia adalah calon
suamimu. Aku ingin menanyakan padamu, apa itu benar?
“So
kita sudah bertemu, kamu ingin bicara apa, Pram?”
Aku
melihat hal yang berbeda padamu saat kamu melihatku dan saat kamu berbicara.
Seperti bukan kamu yang aku kenal. Harusnya memang lelaki itu tidak berkata
demikian, bukan? Aku setengah tidak percaya dengan perkataan Damar. Ingin
rasanya aku menyangkal perkataannya di hadapanmu, namun kamu seperti sudah tahu
lebih dulu daripada aku.
“Aku
ingin berpamitan kepadamu, minggu depan aku akan berangkat ke Australia,
mengambil beasiswa S2 di sana.”
“Wah,
kamu hebat Pram, semoga berhasil ya, aku mendukungmu”
“Iya,
terimakasih, Bunga.”
Tak
banyak yang aku bicarakan kepadamu. Aku berpamitan pulang, kurasa aku harus
mempersiapkan keberangkatanku ke Australia. Aku meninggalkanmu bersama Damar.
Entah
apa yang sebenarnya terjadi saat itu, harusnya aku memberitahumu bahwa aku tak
jadi mengambil beasiswa disana, kamu sendiri yang bilang tidak setuju aku pergi
ke sana. Namun kenapa sekarang kamu malah mendukungku.
Dan
yang membuatku membatin saat tahu bahwa kekasihku sendiri mempunyai calon suami
orang lain. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Hatiku merasa terpukul
ketika Damar berkata kalian akan segera menikah. Bukankah kita masih sepasang
kekasih, Bunga?
Semua
kekeliruan ini terjawab ketika aku tahu, kamu mengalami kecelakaan sebulan yang
lalu yang ngakibatkan kepalamu terbentur keras hingga menderita amnesia. Dan
tak ada satupun dari keluargamu yang memberitahuku.
Padahal
aku ingin memberimu sesuatu yang selalu kau suka, yang selalu aku berikan
kepadamu, ya, Bunga Kemuning. Bunga yang tak bisa dilupakan. Aku menaruhnya di
depan rumahmu yang dulu. Aku berharap kau mengingatnya.
Senin, 29 Agustus 2016
Senja yang Hilang Di Pelupuk Mata
Andai saja senja memiliki pasangan. Mungkin sebuah kesedihan tak membentang di sana. Atau setidaknya, ketika sementara ia tidak terus merasa sendiri. Ada sedikit obrolan yang bisa mereka ciptakan sebelum malam datang.
Aku duduk menghadap jendela, membayangkan senja tadi berpapasan
dengan senja lainnya kemudian terbesit obrolan kecil.
"Bagaimana kabarmu?"
"Seperti biasa, hadir memudar lalu hilang. Bagaimana denganmu?"
"Aku senja yang berkelana, dari senja satu ke senja lainnya. Angin-angin ini, mereka membawaku, walau pada akhirnya sama sepertimu, menghilang."
dengan senja lainnya kemudian terbesit obrolan kecil.
"Bagaimana kabarmu?"
"Seperti biasa, hadir memudar lalu hilang. Bagaimana denganmu?"
"Aku senja yang berkelana, dari senja satu ke senja lainnya. Angin-angin ini, mereka membawaku, walau pada akhirnya sama sepertimu, menghilang."
Entah seperti apa, tiap aku melihat senja di depan mataku, aku serasa dibius oleh warna-warna jingganya.
Waktu menungguku terasa begitu singkat. Sesekali aku meneguk secangkir cappucino latte manis.
Waktu menungguku terasa begitu singkat. Sesekali aku meneguk secangkir cappucino latte manis.
"Kamu sudah lama?"
"Tidak terlalu lama kok?" Sudah lebih dari empat puluh lima menit aku menunggunya di sudut meja, seberkas senja melukiskan bayangan segelas cappucino latte di hadapanku.
"Tidak terlalu lama kok?" Sudah lebih dari empat puluh lima menit aku menunggunya di sudut meja, seberkas senja melukiskan bayangan segelas cappucino latte di hadapanku.
"Maaf sudah menunggu."
Dia menarik kursi di sebrang mejaku, duduk perlahan.
Aku melihat matanya, seberkas senja memantul dan membenam di sana. Indah namun sementara.
"Ya, jadi, apa yg mau kamu bicarakan?"
Dia menarik kursi di sebrang mejaku, duduk perlahan.
Aku melihat matanya, seberkas senja memantul dan membenam di sana. Indah namun sementara.
"Ya, jadi, apa yg mau kamu bicarakan?"
Dia mematikan sambungan telepon, dan menaruhnya di meja.
"Aku tau ini sulit untuk kita, tapi kurasa ini juga akan lebih baik untuk kita ke depannya."
"Apa maksudmu, Ve?"
"Aku tau ini sulit untuk kita, tapi kurasa ini juga akan lebih baik untuk kita ke depannya."
"Apa maksudmu, Ve?"
Aku melihat seorang lelaki menunggu di luar sana, lelaki yang datang bersama Ve.
"Kamu masih berhubungan dengannya, Ve?" aku menanyainya.
"Ya? Ehm Apa maksudmu?"
"Lelaki tua itu, masih sering menemuimu?"
Aku melihat ke arah lelaki itu, lalu ku beralih lagi memandangnya.
Ia terdiam. Senja menghapus senyuman di bibirnya.
"Kamu masih berhubungan dengannya, Ve?" aku menanyainya.
"Ya? Ehm Apa maksudmu?"
"Lelaki tua itu, masih sering menemuimu?"
Aku melihat ke arah lelaki itu, lalu ku beralih lagi memandangnya.
Ia terdiam. Senja menghapus senyuman di bibirnya.
"Kamu ini bicara apa, Ken?"
"Sudahlah, aku sudah tahu semuanya, kenapa kamu bersama lelaki itu, Ve?"
"Tahu apa kamu?" Dia meninggikan nada suaranya. "Kamu tidak tau apa-apa
tentangku, bahkan kamu tidak tau ketika aku membutuhkan kamu saat itu.
Kamu tidak ada !"
"Aku sedang menyelesaikan kuliahku, harusnya kamu paham, Ve"
"Urus saja diri kamu sendiri, kamu bahkan tak peduli lagi padaku."
"Sudahlah, aku sudah tahu semuanya, kenapa kamu bersama lelaki itu, Ve?"
"Tahu apa kamu?" Dia meninggikan nada suaranya. "Kamu tidak tau apa-apa
tentangku, bahkan kamu tidak tau ketika aku membutuhkan kamu saat itu.
Kamu tidak ada !"
"Aku sedang menyelesaikan kuliahku, harusnya kamu paham, Ve"
"Urus saja diri kamu sendiri, kamu bahkan tak peduli lagi padaku."
Hari ini aku baru bertemu lagi dengan kekasihku. Aku mengatur waktu
bertemu di sebuah caffe favorit kami. Setelah lebih dari sebulan aku tak
bertemu dengannya. Harusnya pertemuanku dengan Ve berbuah manis,
sayangnya pertemuanku tak semanis cappucino latte.
bertemu di sebuah caffe favorit kami. Setelah lebih dari sebulan aku tak
bertemu dengannya. Harusnya pertemuanku dengan Ve berbuah manis,
sayangnya pertemuanku tak semanis cappucino latte.
"Apa kamu masih mencintaiku, Ve?"
"Dengar ya, Ken. Menjalani hubungan itu tidak melulu soal cinta. Aku butuh uang, untuk aku hidup. Juga yg lainnya."
"Tapi, aku.."
"Lebih baik, kita akhiri saja hubungan kita, aku tak yakin ini akan bertahan.
Terimakasih untuk semuanya."
"Dengar ya, Ken. Menjalani hubungan itu tidak melulu soal cinta. Aku butuh uang, untuk aku hidup. Juga yg lainnya."
"Tapi, aku.."
"Lebih baik, kita akhiri saja hubungan kita, aku tak yakin ini akan bertahan.
Terimakasih untuk semuanya."
Dia pergi meninggalkan tempat itu. Mengakhiri pertemuan, sekaligus
mengakhiri hubungan kami. Aku tak lagi melihat senja di pelupuk matanya.
Aku seperti tak kuasa untuk berkata lagi, senja ini membiusku.
mengakhiri hubungan kami. Aku tak lagi melihat senja di pelupuk matanya.
Aku seperti tak kuasa untuk berkata lagi, senja ini membiusku.
Lelaki itu menggandeng kekasihku--mantan kekasihku--menaiki ssebuah
mobil mewah, senyuman mereka bertemu di depan mataku.
Mengapa senja menghadirkan keadaan seperti ini, aku tidak pernah mengharapkan hubunganku dengan Ve berakhir. Justru aku ingin
memperbaiki bagian yang hilang karena kesalahpahaman. Namun nyatanya semuanya menghilang, seperti senja di depanku.
mobil mewah, senyuman mereka bertemu di depan mataku.
Mengapa senja menghadirkan keadaan seperti ini, aku tidak pernah mengharapkan hubunganku dengan Ve berakhir. Justru aku ingin
memperbaiki bagian yang hilang karena kesalahpahaman. Namun nyatanya semuanya menghilang, seperti senja di depanku.
Aku pun pergi dari tempat ini, tempat yang mungkin tidak akan ku singgahi lagi, bukan lagi menjadi tempat favoritku, favorit kami. Biarlah semua yang lalu membenam di sana. Aku tak ingin melukai lebih dalam perasaan ini. Yang tersisa hanyalah, senja di sudut meja
dengan cappucino latte yang tersisa satu tegukan.
dengan cappucino latte yang tersisa satu tegukan.
Kau tahu, mengapa terkadang orang tak ingin menetapkan waktu pertemuan di kala senja? Karena waktu senja itu begitu singkat, tak ada yg menginginkan pertemuan berlangsung singkat, kecuali
mereka yg ingin mengakhiri kisah cintanya.
mereka yg ingin mengakhiri kisah cintanya.
Senja memang indah namun hanya sesaat, sesaat hadir memberi warna merah-jingga sesaat lagi memudar lalu menghilang.
Begitu mereka menyebutnya.
Begitu mereka menyebutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
