Malam
itu hujannya deres banget tak hanya membuat rumput kehujanan, tapi juga bikin
hati gue basah. Gue tunggu balesannya, gak ada. Ditambah suara hujan yang bikin
pikiran gue tambah gak karuan. Gue coba memanggilnya lagi
“lis,
lisa permisi” gue coba bunyikan kunci gembok yang memang menggantel pada slot
pintu pagar.
Gue
mencari-cari bel rumahnya ternyata ada disamping tembok tapi sayang itu gak
aktif, mungkin rusak. Perlahan suara gue mulai lenyap oleh gemuruhnya suara hujan
ini. seakan melarang gue untuk melawan gemuruh itu meski beberapa kali gue
sautin tapi gak ada jawaban apa-apa. Sungguh kasihan baju gue yang super
kebasahan hati gue juga. Saat terakhir gue bilang permisi dan hendak pergi,
tiba-tiba pintu rumah lisa terbuka perlahan.